Candi
Ngetos. Barangkali candi ini sudah begitu populer bagi kalayak Nganjuk
dan sekitarnya. Candi Ngetos merupakan sebuah candi penting dari era
Majapahit yang terletak di kawasan Kabupaten Nganjuk. Candi Ngetos
terletak di lereng utara Gunung Wilis dan secara administratif berada di
Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos. Setelah sekian lama kami mendengar
mengenai ketenaran candi ini, akhirnya pada perjalanan kali ini kami
berkesempatan untuk menyambanginya. Oke.. sebelum bercerita lebih jauh,
terlebih dahulu akan kami ceritakan kronologi perjalanan ini.
Rute yang kami lalui adalah rute standar
untuk menuju Nganjuk, rute ini sangat mudah diikuti. Berikut rincian
rute dari Blitar menuju Candi Ngetos: Blitar – Srengat – Kediri – Pace
(Nganjuk) – Berbek – Ngetos. Poin penting rute ini adalah pada pertigaan
Kantor Camat Pace, dari pertigaan tersebut rute yang tercepat berada
pada percabangan sebelah kiri. Dengan menyusuri rute tersebut kami
sampai di Berbek. Dari Berbek kami melanjutkan perjalanan ke arah Sedudo,
tapi tidak sampai jauh kami sudah menjumpai plang menuju Candi Ngetos.
Dengan mengikuti petunjuk dari plang tersebut akhirnya kami sampai di
Candi Ngetos.
Candi Ngetos
Tidak perlu terlalu mblusuk untuk mencari
candi ini, karana lokasinya berada dipinggir jalan. Candinya gede,
merah pula. Pokoknya mencolok banget. Hehehe
Sayangnya area candinya sempit, sehingga agak sulit untuk mendapatkan angle yang pas buat foto. Hem.. ndak apa deh, difoto sebisanya.
Bentuk Candi Ngetos (kiri) mirip dengan Candi Kalicilik di Blitar (kanan), tapi tak ada kaitan yang erat antara kedua bangunan ini.
Latar sejarah mengenai Candi Ngetos belum
banyak diketahui. Berdasarkan mitos yang berkembang, candi ini
dipercaya sebagai tempat pendharmaan Hayam Wuruk, raja terbesar
Majapahit yang bergelar Rajasa Negara. Yang mendirikan candi ini adalah
paman Hayam Wuruk, yakni Raja Ngabei Siloparwoto dengan patihnya bernama
Raden Bagus Condrogeni/ Condromowo dari kerajaan vassal Majapahit yang
bernama Ngatas Angin (sekarang di sekitar Nganjuk). Candi ini didirikan
di lereng Gunung Wilis yang merupakan salah satu gunung suci di tanah
Jawa. Pendirian candi yang terletak di lereng gunung dimaksudkan agar
bangunan suci berada lebih dekat dengan kediaman para dewa. Karena
menurut kepercayaan pada masa silam, puncak gunung merupakan kediaman
para dewa.
Kisah yang kami sampaikan di atas memang
sebatas mitos, namun ada yang menarik dari mitos tersebut, yakni adanya
peranan tokoh Raden Condromowo. Dalam mitos yang lain dikisahkan
Condromowo dari Ngatas Angin merupakan saudara dari Prabu Kelono Jati
Kusumo dari Kerajaan Bantar Angin (kerajaan vassal Majapahit di Lodoyo
Blitar). Wah-wah berdasarkan mitos ini ternyata Blitar dan Nganjuk
adalah bersaudara. Hehehe.. rasanya jadi gimana gitu.. Perjalanan kami ke Candi Ngetos jadi serasa mengunjungi saudara sendiri.
Mitos Ngatas Angin ini sepertinya memang
sudah lekat dengan Nganjuk, dimana kabupaten ini juga sering disebut
kota angin. Entah berkaitan atau tidak tapi ini memang keren.
Setalah merasa cukup akhrinya kami
putuskan untuk menyudahai perjalanan ini. Kami pun pulang dengan rute
yang sama seperti saat kami berangkat tadi. Ketika melintasi Berbek kami
bermaksud untuk Shalat Dzuhur, kebetulan ada Masjid, kami mampir deh. Ndak nyangka kami dapat BONUS perjalanan di sini.
Masjid Al Mubaarok Berbek
Pada plang Masjid yang kami jumpai,
tertulis keterangan yang berbunyi makam Pangeran Njimat. Wah..
Sepertinya Masjid ini bukan Masjid biasa. Okelah kita mampir.
Setelah melewati tengah hari di Masjid
ini, akhirnya kami putuskan untuk segera bertolak ke Blitar. Perjalanan
kali ini benar-benar memuaskan hati, selain kami dapat mengetahui Candi
Ngetos dan mitos Ngantas Angin-nya, kami juga dapat bonus di Masjid Al
Mubaarok. Akhrinya kami tutup perjalanan ini dengan rasa puas.
Tulisan terkait candi lain di Nganjuk:
——————————————————————————————————————————————-
Writer : Galy HardytaRevisi terakhir : -
Anjuk Ladang di Sepenggal Perjalanan
Participant : Galy, Koje
Perjalanan Blitar-Jogja memang sudah
biasa kami alami, terutama bagi saya dan Koje yang memang kuliah di
Jogja. Tapi ada yang berbeda dalam perjalanan ini di mana kami mencoba
mampir ke salah satu spot menarik di Nganjuk. Mungkin karena masih dalam
suasana libur awal tahun 2012, sehingga kami bisa meluangkan waktu
tanpa kuwatir kemalaman tiba di Jogja. Spot yang kami pilih dalam
perjalanan ini adalah Candi Lor yang secara administratif berada di Desa
Candirejo, Kecamatan Loceret, Nganjuk, Jawa Timur. Alasan mengapa kami
memilih spot ini karena lokasinya berada tak jauh dari jalan
Kediri-Nganjuk yang tentunya dilalui oleh kendaraan umum.
Dengan biaya Rp 15.000,- kami tinggal ungkang-ungkang
kaki tanpa harus memikirkan rute mana yang akan dipilih. Asal nanti
sudah terlihat sepuah Pohon Kepuh yang tumbuh pada tumpukan bata merah
berarti kami sudah harus menepi. Tapi menunggu penampakan pohon tersebut
ternyata sangat lama. Baru setelah satu setengah jam ngobrol ngalor-ngidul
ga jelas akhirnya tanda-tanda itu terlihat juga. Tanpa basa-basi kami
pun segera menepi dan berpamitan pada mas Kondektur hehehe. Perjalanan
pun kami lanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 300 meter menuju lokasi
candi.
Masih munggunakan jasa angkutan umum,
kami pun melanjutkan perjalanan ke Museum Anjuk Ladang yang lokasinya
tidak jauh dari Terminal Nganjuk. Setiba di terminal kami langsung
meluncur ke TKP. Eh ternyata Museumnya lagi tutup.. Hass…
Tulisan terkait candi lain di Nganjuk:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar